Selasa, 24 September 2013

Psikologi



BAB I
PENDAHULUAN

Perkembangan zaman (globalisasi) menimbulkan perubahan dan kemajuan dalam masyarakat. Aspek perubahan meliputi: sosial, politik, ekonomi, industri, informasi dsb. Akibatnya ialah berbagai permasalahan yang dihadapi oleh individu. Walaupun pada umumnya masing-masing individu berhasil mengatasi dengan sempurna, sebagian lain masih perlu mendapatkan bantuan.
Dalam proses pendidikan di sekolah, siswa sebagai subjek didik, merupakan pribadi- pribadi yang unik dengan segala karakteristiknya. Siswa sebagai individu yang dinamis dan berada dalam proses perkembangan, memiliki kebutuhan dan dinamika dalam interaksinya dengan lingkungannya. Sebagai pribadi yang unik, terdapat perbedaan individual antara siswa yang satu dengan lainnya. Di samping itu, siswa sebagai pelajar, senantiasa terjadi perubahan tingkah laku sebagai hasil proses belajar.
Pendidikan sebagai salah satu bentuk lingkungan bertanggung jawab dalam memberikan asuhan terhadap proses perkembangan individu. Bimbingan dan konseling akan merupakan bantuan individu di dalam memperoleh penyesuaian diri sesuai dengan tingkat perkembangannya. Pelayanan bimbingan dan konseling merupakan komponen pendidikan yg dapat membantu para siswa dalam proses perkembangannya. Pemahaman terhadap masalah perkembangan dengan prinsip-prinsipnya akan merupakan kebutuhan yang mendasar bagi pelaksanaan pelayanan bimbingan dan konseling.
Bimbingan dan konseling merupakan salah satu komponen dalam keseluruhan sistem pendidikan khususnya di sekolah; guru sebagai salah satu pendukung unsur pelaksana pendidikan yang mempunyai tanggung jawab sebagai pendukung pelaksana layanan bimbingan pendidikan di sekolah, dituntut untuk memiliki wawasan yang memadai terhadap konsep-konsep dasar bimbingan dan konseling di sekolah.
Tuhan Yang Maha Pemurah memberikan segenap kemampuan potensial kepada manusia, yaitu kemampuan yang mengarah pada hubungan manusia dengan Tuhannya dan yang mengarah para hubungan manusia dengan sesama manusia dan dunianya. Penerapan segenap kemampuan potensial itu secara langsung berkaitan dengan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Wujud ketaqwaan manusia pada Tuhan hendaklah seimbang dan lengkap, mencakup hubungan manusia dengan Tuhan maupun hubungan manusia dengan manusia dan dunianya.
Dengan menyadari eksistensinya sebagai makhluk Allah yang demikian itu, berarti yang bersangkutan dalam hidupnya akan berperilaku yang tidak keluar dari ketentuan dan petunjuk Allah, dengan hidup serupa itu maka akan tercapailah kehidupan yang bahagia di dunia dan akhirat.
Bebicara tentang agama terhadap kehidupan manusia memang cukup menarik, khususnya Agama Islam. Hal ini tidak terlepas dari tugas para Nabi yang membimbing dan mengarahkan manusia kearah kebaikan yang hakiki dan juga para Nabi sebagai figur konselor yang sangat mumpuni dalam memecahkan permasalahan  yang berkaitan dengan jiwa manusia, agar manusia keluar dari tipu daya syaitan.









BAB  II
PEMBAHASAN

KONSEP-KONSEP UTAMA  KONSELING ISLAMI  DAN  BEBERAPA IMPLIKASI BAGI KEGIATAN SUPERVISI PENDIDIKAN

A.   Konsep-konsep  utama konseling Islami
1.    Konsep bimbingan dan konseling sebagai amal shaleh dan  ibadah kepada Tuhan.
Islam memandang menolong orang  yang sedang  bermasalah adalah perbuatan ibadah, maka kebahagiaan seseorang mukmin antara lain  jika berhasil membantu orang lain melepaskan diri dari cengkeraman masalahnya, dan kepuasan perasaan  itu tercapai, itu antara lain karena  meyakini bahwa perbuatan itu diridhai Tuhan. [1]
Adapun subyek konseling adalah manusia itu sendiri, karena manusia pada dasarnya tidak pernah luput dari masalah (problem). Di bawah ini adalah penjabaran dari subyek Bimbingan Konseling Islam :
       a. Individu, baik dalam rangka preventif maupun kuratif, berkaitan dengan,
1.   Kesulitan (kemungkinan menjumpai kesulitan) dalam pergaulan dengan lawan jenis.
2.   Kesulitan (kemungkinan menjumpai kesulitan) dalam pergaulan dengan anggota kelompoknya,
3.   Kesulitan (kemungkinan menjumpai kesulitan) dalam pergaulan dengan masyarakat,
4.  Kesulitan (kemungkinan menjumpai kesulitan) yang berkaitan dengan konflik nilai, baik dengan nilai kelompok maupun dengan nilai masyarakat luas.
       b. Kelompok, baik dalam rangka preventif maupun kuratif, yang mencakup :
1.   Kesulitan (kemungkinan menjumpai kesulitan) dalam hubungan ketetanggaan (antar rumah tangga),
2.   Kesulitan (kemungkinan menjumpai kesulitan) dalam hubungan antar kelompok. [2]

2.    Konsep bimbingan dan konseling harus  mengacu kepada  ajaran Islam yang bersumber kepada Al-Qur’an dan Sunnah nabi.
            Al-Qur’an merupakan sumber yang pertama  dan keterutama dalam memenuhi segala aspek kehidupan umat manusia, sedangkan  Sunnah nabi  merupakan sumber yang keduanya. Semua umat Islam  berkeyainan bahwa segala permasalahan yang dihadapinya akan terselesaikan jika proses bimbingan dan konseling berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah nabi.
            Jadi landasan utama bimbingan dan konseling Islami adalah al-Qur’an dan Sunnah. Firman Allah SWT dalam surat At-Tin ayat 4, sebagai berikut:
 لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ -٤-
Artinya : “Sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya”.(QS At-Tin ayat 4)[3]
Menurut Tafsir al-Maraghi sesungguhnya manusia diciptakan dalam bentuk yang paling baik. Kami ciptakan ia dengan tinggi yang memadai, dan memakan makanannya dengan tangan, tidak seperti makhluk lain yang mengambil dan memakan makanannya dengan mulutnya. Lebih dari itu kami istimewakan manusia dengan akalnya, agar bisa berfikir dan menimba berbagai ilmu pengetahuan serta bisa mewujudkan segala inspirasinya.
            Al-Qur’an dapat menjadi sumber bimbingan dan konseling Islami, nasehat, dan obat bagi manusia. Firman Allah surat Al-Isra’ ayat 82.
 وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاء وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ وَلاَ يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إَلاَّ خَسَاراً -٨٢-
Artinya : “Dan kami turunkan dari al-Qur’an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan al-Qur’an tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian”.(QS al-Isra’ ayat 82)[4]

3.    Konsep bimbingan dan konseling yang diberikan meliputi kehidupan di dunia dan keyakinan ada kehidupan di akhirat
            Islam mempertimbangkan keyakinan hidup di akhirat sehingga terapi yang diberikan juga tidak melawati factor itu. Seseorang yang terkena  ganguan kejiwaan karena  ambisi, serakah dan egois misalnya, sangat mungkin untuk diarahkan agar memiliki keseimbangan  perhatian terhadap  kehidupan duniawi dan ukhrawi. Dalam pandangan Islam seperti tersebut dalam firman Allah Surat Al-A’la ayat 17:
وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَى -١٧-
Artinya: Padahal akhirat itu lebih baik dan lebih kekal.[5]
 Dari keterangan ayat di atas dapat dipahami bahwa kehidupan akhirat lebih utama dan kekal.  Seorang Klin yang menderita ganguan mental                                                                                                                                         itu akan hilang jika ia dapat mengubah  cara pandangan hidupnya  yang bersifat material yaitu kehidupan dunia sangat kecil dibandingkan dengan kehidupan akhirat yang lebih baik dan abadi.



4.    Konsep bimbingan dan konseling memperkenal pahala dan dosa.
Seorang konselor muslim pasti akan mempertimbangkan kedua hal tersebut, sebagai contoh ada seseorang yang bingung  karena menghadapi keadaan “maju kena mundur kena”, maksudnya jika ia pertahankan nilai moral di lingkungan kerjanya yang bobrok  akan menyebabkan dirinya terhambat karilnya, tetapi jika ia mengikuti sisten yang berlaku seperti yang di dilakukan oleh orang lain, ia terlibat dosa. Dalam menghadapi kasus seperti ini maka seorang konselor muslim akan menawarkan solusi  seperti diajarkan dalam Al-Qur’an dalam surat At-Thalak ayat: 2 sebagai berikut:
وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجاً -٢-
Artinya: Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan                   
            Membukakan jalan keluar baginya.[6]  
Dari ayat di atas  dapat dipahami bahwa siapa saja yang beriman kepada Allah s.w.t. maka ia akan menemui jalan penyelesaian masalah yang ada pada dirinya.
            Dalam konsep Islam, faktor sabar dan tawakkal hampir selalu dipergunakan  dalam layanan bimbingan dan konseling. Faktor yang menyebabkan seseorang yang terkena gangguan kejiwaan  antara lain  adalah karena tidak sabar dan tidak tawakkal kepada Tuhan.[7]
           
B.   Beberapa Implikasi bagi kegiatan Supervisi Pendidikan.
1. Menasehati.
Seorang supervisor dalam membimbing dan  memberi nasehat kepada para pendidik  (Konseling)  dengan penuh kesabaran karena yang dihadapi berbagai  corak pemikiran para pendidik itu sendiri. Firman Allah QS. al-Ashr :

وَالْعَصْرِ. إِنَّ الإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ. إِلاَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ. (العصر: 1-3)
Artinya: “Demi masa, sesungguhnya manusia benar-benar dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh dan nasehat-menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat-menasehati supaya mentaati kesabaran.

2. Mendidik
Supervisor dalam mendidik dan membimbing harus dengan cara  yang bijaksana dan pengajaran yang baik sesuai dengan ruh Islamiah, hal ini sesuai firman Allah dalam surat An-Nahlu ayat  125 sebagai berikut:
1.      ادْعُ إِلِى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُم بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ -١٢٥-
Artinya: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk”. (An Nahl:125).[8]
3. Membantu
Dalam kepengawasan seorang supervisor harus memiliki sifat tolong menolong dalam membantu untuk meningkatkan kualitas para pendidik dengan berbagai cara  dan kemampuan yang dimilikinya. Hal ini sesuai dengan ketentuan  Allah dalam surat Al-Maidah ayat 2
وَتَعَاوَنُواْ عَلَى الْبرِّ وَالتَّقْوَى وَلاَ تَعَاوَنُواْ عَلَى الإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ                        
Artinya : tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan ) kebaikan dan takwa dan jangan  tolong menolong dalam mengerjakan dosa dan permusuhan.[9]
Masih banyak para guru atau  pendidik dalam dunia pendidikan yang memerlukan bantuan seorang konselor untuk menyelesaikan permasalah yang berbeda menurut pribadi masing-masing  klin. Setiap klin pasti berbeda permasalahan yang dialaminya, oleh karena itu kesiapan konselor dalam kegiatan supervisi pendidikan sangat dituntut dengan persiapan keilmuan yang mantap.
4. Bermusyawarah
            Dalam kaitan selanjutnya bahwa kegiatan  supervisi perlu diadakan musyawarah antara supervisor, guru, kepala sekolah dan yang lainnya yang berhubungan dengan supervisi. Hal ini sesuai dengan firman  Allah dalam surat Ali Imran ayat 159.
وَشَاوِرْهُمْ فِي الأَمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللّهِ إِنَّ اللّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ -١٥٩….-
Artinya: dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu.Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sungguh, Allah Mencintai orang yang bertawakal.
            Jadi musyawarah  dalam kaitan dengan supervisi pendidikan merupakan suatu hal yang sangat diperlukan dan dipertahankan dalam hubungan  yang harmonis antara supervisor, guru, kepala sekolah dan pihak yang terkait lainnya.









BAB III
KESIMPULAN


Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa konsep-konsep utama dalam konseling Islam adalah:
1.      Konsep bimbingan dan konseling sebagai amal shaleh dan  ibadah kepada Tuhan.
2.      Konsep bimbingan dan konseling harus  mengacu kepada  ajaran Islam yang bersumber kepada Al-Qur’an dan Sunnah nabi.
3.      Konsep bimbingan dan konseling yang diberikan meliputi kehidupan di dunia dan keyakinan ada kehidupan di akhirat
4.      Konsep bimbingan dan konseling memperkenal pahala dan dosa.
Sedangkan implikasinya dalam kegiatan supervisi pendidikan sebagai berikut:
1.      Menasehati.
2.      Mendidik
3.      Membantu
4.      Bermusyawarah
Inilah yang dapat penulis simpulkan mudah-mudahan dapat bermanfaat bagi kita semua, Wallahu A’lam.











DAFTAR PUSTAKA

Achmad Mubarok, Konseling Agama Teori dan kasus, Jakarta, PT. Bina Rena Pariwara, 2000.
Ibnusuny Al-Marhumy, 8 Oktober 2009, Bimbingan dan Konseling Kerja Islam, (online: http://ibnusuny-al-marhumy.blogspot.com/2009/10/bimbingan-dan-konseling-kerja-islami.html)
Kementerian Agama, Al-Qur’an Tajwid dan terjemahannya, Bandung, PT. Sygma Examedia Arkanleema, 2010.






















Ada beberapa ayat yang lebih khusus menerangkan tugas seseorang dalam pembinaan agama bagi keluarganya, salah satunya adalah :
     

“Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat” (As- Syu’ara:214)


Sedangkan pada beberapa Hadits yang berkaitan dengan arah perkembangan anak diantaranya :
o    “Tiap-tiap anak itu dilahirkan dalam keadaan suci. Maka kedua orang tuanya yang menjadikannya beragama Yahudi, Nasrani atau Majusi” (HR Baihaqi)
o    “Seseorang supaya mendidik budi pekerti yang baik atas anaknya. Hal itu lebih baik daripada bersedekah satu sha” (HR At Turmudzi)
o    “Muliakanlah anak-anakmu dan perbaikilah budi pekertinya” (HR Ibnu Majah) [3]


[1]  Achmad Mubarok, Konseling Agama Teori dan kasus, Jakarta, PT. Bina Rena Pariwara, 2000, hal. 16
[2] Ibnusuny Al-Marhumy, 8 Oktober 2009, Bimbingan dan Konseling Kerja Islam, (online: http://ibnusuny-al-marhumy.blogspot.com/2009/10/bimbingan-dan-konseling-kerja-islami.html)
[3] Kementerian Agama, Al-Qur’an Tajwid dan terjemahannya, Bandung, PT. Sygma Examedia Arkanleema, 2010, hal. 597
[4] Kementerian Agama, Al-Qur’an Tajwid….., hal. 290
[5] Kementerian Agama, Al-Qur’an Tajwid….., hal. 592
[6] Kementerian Agama, Al-Qur’an Tajwid ………hal. 558
[7] Achmad Mubarok, Konseling Agama……., hal. 18

[8]  Kementerian Agama, Al-Qur’an Tajwid ………hal. 281
[9]  Kementerian Agama, Al-Qur’an Tajwid….., hal. 106
[10]  Kementerian Agama, Al-Qur’an Tajwid ………hal. 71

Tidak ada komentar:

Posting Komentar